IBADAH YANG DITERIMA DAN IBADAH YANG DITOLAK


Dengan tegas Allah memastikan bahwa tujuan penciptaan bangsa Jin dan Manusia adalah untuk beribadah kepadaNya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(الذاريات 56)

Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu (Adz-Dzariat:56)

Manusia ada dibumi ini untuk ibadah, maka kehidupan ini bagi manusia adalah ibadah. Semestinya manusia harus menjadikan seluruh hidupnya dalam rangka beribadah kepada Allah. Secara singkat hidup = ibadah.

Untuk itu Islam memang mengajarkan konsep ibadah yang mencakup seluruh kehidupan manusia. Ibadah bukan saja sholat, puasa, zakat dan haji tetapi pekerjaan-pekerja duniawi juga merupakan ibadah. Karena kita yakin bahwa Islam telah mengatur seluruh kehidupan manusia mulai dari etika makan dan minum; cara buang kotoran sampai kehidupan ekonomi, politik, sosial dan lain sebagainya.

Maka ketika Allah memerintahkan : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu…(Q.S. 2:21), artinya manusia diperintahkan untuk menjadikan kehidupannya secara total untuk mencari keridhaan Allah.

Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Ibadah adalah istilah untuk semua yang disukai dan diridhai Allah baik yang berupa perbuatan atau perkataan seperti shalat, puasa, zakat, berkata jujur; berbuat baik kepada orang lain dan sebagainya. Ini semua adalah perbuatan perbuatan zhahir, ibadah juga bisa dengan batin seperti ikhlas, tawakal, cinta Allah dan sebagainya..

Secara umum, ibadah yang sangat luas ini terbagi menjadi dua kategori besar:

Ibadah mahdhah yaitu ibadah ritual murni seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.

  1. Ibadah ghoiru mahdhah yaitu kegiatan non-ritual atau semua kegiatan manusia yang diniatkan untuk mencari keridhaan Allah.

Ibadah Mahdhah

Ibadah mahdhah adalah ibadah ritual yang telah ditentukan Allah dan Rasulullah saw yang secara hukum bisa bersifat wajib atau sunnat. Ibadah ini diterima Allah apabila telah memenuhi tiga syarat mutlak:

  1. 1. Niat yang ikhlas

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatannya dengan agama yang lurus…(Q.S. 98:5)

Niat ada syarat yang sangat penting dalam ibadah. Satu amal ibadah diterima Allah apabila dilaksanakan dengan niat yang ikhlas mencari keridhaan Allah. Rasulullah saw bersabda:

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ

مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى

مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ *(متفق عليه)

Sesungguhnya pekerjaan-pekerjaan  itu sesuai dengan niatnya. Sesungguhnya bagi seseorang hanya apa yang diniatkannya. Apabila niatnya untuk keuntungan dunia maka dia akan mendapatkanya dan hanya itu balasannya. Apabila niatnya untuk menikahi seorang gadis maka dia akan mendapatkannya dan hanya itu balasannya.

  1. 2. Masyru’iyah (disyariatkan Allah atau Rasulullah saw).

Seluruh kegiatan ibadah  mahdhah yang kita laksanakan harus ada landasan syaratnya. Dalam artian bahwa ibadah tersebut diperintahkan oleh Allah atau Rasulullah saw atau dicontohkan (disunnahkan) Rasulullah saw. Ibadah yang tidak ada dasar syareatnya tidak boleh dilakukan dan apabila dilakukan akan ditolak bahkan akan berdosa.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ :مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ * (متفق عليه)

Setiap perkara yang tidak ada perintah dari kami (Rasulullah saw), maka perbuatan tersebut tertolak.

  1. 3. Ittiba’ (mencontoh Rasulullah saw dalam pelaksanaan ibadah tersebut).

Setiap ibadah ritual dalam pelaksanaannya harus mengikuti cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Shalat, misalnya, shalat yang diterima Allah adalah shalat yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Beliau bersabda: Shalat sebagaimana aku shalat. Dan dalam haji beliau bersabda: Ambillah dariku cara pelaksanaan hajimu. Ibadah yang dilaksanakan tidak sesuai dengan tuntunan beliau akan ditolak.

Ibadah Ghoiru Mahdhah

Setiap kegiatan dalam kehidupan kita akan bernilai ibadah dan mendapat balasan pahala dari Allah apabila memenuhi syarat-syarat berikut:

Pekerjaan atau kegaiatan tersebut harus pekerjaan halal. Pekerjaan haram walaupun dikerja dengan ikhlas tetap akan menjadi dosa bukan pahala.

Niat yang ikhlas untuk mencari keridhaan Allah. Pekerjaan baik yang ikhlas akan menjadi amal ibadah baik pelakunya.

Melaksanakan pekerjaan tersebut dengan ihsan yaitu dengan cara yang terbaik untuk mencapai hasil yang terbaik.

Tidak melanggar aturan agama dalam melakukannya seperti: tidak menzalimi, tidak mengambil hak orang lain dan beberapa larangan Allah lainnya.

Pekerjaan tersebut tidak boleh melalaikannya dari ibadah mahdhah atau melalaikan dari Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ(المنافقون 9)

Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah. Barang siapa yang melakukan itu sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi (Q.S.63:9).

Iklan

2 Balasan ke IBADAH YANG DITERIMA DAN IBADAH YANG DITOLAK

  1. bay berkata:

    tilisan bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: